Posted on
Nonton film Hidup di luar angkasa ubah kondisi manusia ke tingkat genetika terbaru
Expedition 45/46 Commander, Astronaut Scott Kelly along with his brother, former Astronaut Mark Kelly speak to news media outlets about Scott Kelly's 1-year mission aboard the International Space Station. Photo Date: January 19, 2015. Location: Building 2. Photographer: Robert Markowitz

Hidup di luar angkasa ubah kondisi manusia ke tingkat genetika

oleh: Stella Adinda | 19 April 2019 | Pengetahuan |

 

Para peneliti akhirnya melaporkan hasil awal dari proyek Twins Study NASA. Dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa menghabiskan waktu yang panjang di orbit dapat mengakibatkan perubahan yang mendasar terhadap tubuh manusia sampai ke tingkat molekuler.

Dilansir dari Nature (26/1), Alexandra Witze menuliskan bahwa NASA mengambil berbagai sampel biologis dari astronaut kembar Scott dan Mark Kelly sebelum, selama, dan setelah misi ruang angkasa. Sampel tersebut kemudian diuji segala sesuatunya, dari microbiomes di perut hingga panjang DNA mereka.

Di sinilah letak pentingnya peran Mark Kelly. Menjadi saudara kembar identik dari Scott, ia memiliki genetika yang sama persis. Hal ini memberikan para ilmuwan kesempatan untuk membandingkan bagaimana perubahan tubuhnya di Bumi, ke perubahan tubuh Scott dalam ruang angkasa selama periode waktu tertentu.

Selama Scott berada di ruang angkasa, telomer – topi pada ujung kromosom- tumbuh lebih panjang dari milik Mark. Namun telomer tersebut kembali ke ukuran panjang sebelum penerbangan tak lama setelah Scott kembali ke Bumi.

Umumnya telomer menyusut sejalan dengan menuanya manusia, jelas Rae Paoletta di Gizmodo (31/1). Para ilmuwan sebelumnya percaya bahwa tekanan selama penerbangan di ruang angkasa menyebabkan telomer memendek pada kecepatan tinggi. Pengikisan telomer dapat menyebabkan cacat kesehatan, sehingga penting untuk memahami dampak dari ruang angkasa pada telomer.

Ukuran telomer juga bukan satu-satunya perbedaan yang berhasil diindentifikasi oleh para peneliti. Metilasi DNA Scott, atau mekanisme kimia yang mengontrol ekspresi gen, mengalami penurunan aktivitas saat ia berada di ruang angkasa.

Kegiatan metilasi dipengaruhi oleh hal-hal seperti diet dan pola tidur, dan keadaannya berubah sepanjang waktu pada orang di Bumi. Pada Mark, fakta keadaannya meningkat selama masa studi.

Tapi metilasi DNA Scott tampak mengalami pembesaran yang tidak normal. Hal ini terjadi kemungkinan karena ia terpapar kondisi yang ekstrem selama perjalanan ruang angkasa. Contohnya seperti makanan kering yang dibekukan, perubahan pola tidur, paparan gravitasi mikro, dan sebagainya.

Studi ini sebenarnya belum selesai, tapi dari hasil awal tersebut menunjukkan bahwa Scott memiliki kandungan rendah dari kimia yang mengatur gula darah setelah makan. Dia juga tampaknya mengalami sedikit penurunan pada kecepatan dan ketepatan dalam tes otak.

Kemudian Scott mengalami penurunan dalam pembentukan tulang pada paruh kedua dari misinya. Tapi setelah berolahraga secara giat, ia berhasil meningkatkan kembali hormon kortisolnya. Hormon yang menaikkan kesehatan tulang dan otot.

Para ilmuwan kini sedang mencoba untuk mencari tahu apakah misteri ekspresi gen ini dipicu oleh misi ruang angkasa. Dalam perunutan genom Scott dan Mark, para peneliti menemukan bahwa setiap individu memiliki ratusan mutasi yang unik dalam genom mereka.

Seorang juru bicara NASA mengatakan, “Perunutan RNA (transkriptomika) menunjukkan lebih dari 200.000 molekul RNA yang dinyatakan berbeda antara si kembar.”

Para peneliti kemudian akan melihat lebih dekat guna melihat bagaimana sebuah “gen ruang angkasa” bisa diaktifkan, selama Scott berada di ruang angkasa.”

Kembar identik, Scott dan Mark Kelly, yang menjadi subyek dari Twins Study NASA. Scott (kiri) menghabiskan satu tahun di ruang angkasa, sedangkan Mark (kanan) tinggal di Bumi sebagai subjek kontrol.

Kembar identik, Scott dan Mark Kelly, yang menjadi subyek dari Twins Study NASA. Scott (kiri) menghabiskan satu tahun di ruang angkasa, sedangkan Mark (kanan) tinggal di Bumi sebagai subjek kontrol. NASA

Saudara kandung pertama yang pergi ke antariksa

Dikutip dari laman resmi University of Arkansas, Kelly bersaudara adalah kembar identik yang keduanya telah mencapai pangkat kapten di Angkatan Laut AS.

Sebelum bergabung dengan NASA sebagai pilot pesawat ruang angkasa, mereka merupakan seorang prajurit dan pilot penguji. Sejauh ini mereka berdua adalah satu-satunya saudara kandung yang keduanya telah bepergian di ruang angkasa.

Meskipun karier mereka berada di jalan yang sama, namun tidak begitu cocok jika dikatakan identik.

Mark Kelly telah melewati misi penerbangan tempur sebanyak 39 misi di Angkatan Laut selama Perang Teluk pertama. Dia terbang di empat misi pesawat ruang angkasa. Dua sebagai pilot, dan dua lagi sebagai komandan. Kemudian dia pensiun dari NASA pada 2011 untuk membantu istrinya, politisi Gabrielle Giffords, di masa pemulihan dari upaya pembunuhannya.

Scott Kelly, telah melakukan dua misi penerbangan pesawat ruang angkasa. Satu sebagai pilot dan satu lagi sebagai komandan, serta menjabat sebagai komandan Stasiun Luar Angkasa Internasional pada tiga misi.

Pada misi ketiga dia menghabiskan 340 hari berturut-turut di stasiun ruang angkasa. Misi inilah yang digunakan sebagai eksperimen unik pemantauan apakah ada efek genetik atau perbedaan fisik yang disebabkan oleh tinggal di ruang angkasa dalam waktu yang panjang.

Scott Kelly mengakhiri misi ini dengan rekor akumulasi waktu dalam ruang angkasa oleh astronaut Amerika, total 382 hari. Kemudian dia pensiun dari NASA pada tahun lalu.

Scott memegang rekor penerbangan ruang angkasa dengan total seumur hidup sebanyak 520 hari, sementara Mark mendapatkan total 54 hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *