Posted on
Nonton film Solo Traveling ke Ho Chi Minh City di Vietnam, Seru Banget! terbaru

Solo Traveling ke Ho Chi Minh City di Vietnam, Seru Banget!

detikTravel Community – Ho Chi Minh City di Vietnam jadi salah satu destinasi asyik untuk solo traveling. Penasaran bagaimana kisah saya?

Perjalanan solo traveling kali ini saya memilih mengunjungi negara Vietnam. Vietnam termasuk negara yang bebas visa dengan maksimal stay 30 hari  Perjalanan ke Vietnam dapat ditempuh selama kurang lebih 4 jam yaitu 2 jam dari Soetta-KL, lalu dilanjut 2 jam dari KL- HCMC. Banyak sekali tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di HCMC. Selain itu Vietnam juga terkenal dengan tempat-tempat peninggalan bersejarahnya.

Menurut sejarahnya, Pada 1 Mei 1975, setelah jatuhnya Vietnam Selatan, pemerintah komunis yang kini berkuasa mengganti nama kota ini dengan menggunakan nama samaran pemimpin mereka H Chi­ Minh. Nama yang resmi sekarang adalah Tha nh ph (artinya kota) H Ch Minh, yang seringkali disingkat menjadi TPHCM. Dalam bahasa Indonesia, nama ini diterjemahkan menjadi Kota Ho Chi Minh, dan dalam bahasa Perancis diterjemahkan menjadi Hô Chi Minh Ville. Namun, nama lama Sài Gòn/Saigon masih banyak digunakan oleh orang Vietnam dan ditemukan dalam nama-nama perusahaan, judul-judul buku, dan kadang-kadang dalam papan keberangkatan di bandara.

Di Kota Ho Chi Minh terdapat penduduk etnis Tionghoa yang telah mapan. Cholon, yang kini dikenal sebagai Distrik 5 dan bagian-bagian dari Distrik 6, 10 dan 11, berfungsi sebagai Pecinannya. Setelah sampai dibandara HCMC hal pertama kali yang harus dilakukan adalah menukarkan uang di money changer di bandara, rate disini pun bermacam. Nama mata uang Vietnam adalah Dong (VND). Salah satu hal yang  menyenangkan traveling kali ini bagi saya adalah karena mata uang Rupiah lebih tinggi dibandingkan dengan mata uang Dong, namun sayangnya di Vietnam tidak menerima penukaran uang Rupiah, jadi dari Indonesia jangan lupa untuk menukarkan ke Dollar. Dan setelah sampai disana barulah tukarkan ke Dong, ratenya cukup tinggi. Menyenangkan bukan?

Transportasi yang dapat digunakan dari bandara menuju kota yaitu menggunakan taksi online yang berbasis aplikasi, juga bisa dipesan dari bandara, sama halnya dengan di Indonesia, untuk harganya pun lebih hemat dibandingkan dengan tarif taksi biasanya, hanya saja kamu harus bisa berbahasa lokal untuk memesan dan menentukan lokasi penjemputannya. Bila ingin menggunakan taksi conventional, salah satu yang terpercaya adalah VINASUN. Pastikan juga taksi tersebut menggunakan argometer supaya tidak menjadi korban taksi ‘nakal’. Untuk mempermudah tunjukkan alamat yang jelas, dapat menggunakan alamat hotel yang ada di aplikasi atau dengan menunjukkan peta ke sopirnya. Saat tiba disana jarang sekali saya menemukan sopir yang bisa berbahasa inggris, sehingga cukup sulit untuk berkomunikasi. Di Vietnam posisi kemudi dan jalannya kendaraan berada di kanan, kebalikan dari Indonesia.

Penginapan yang saya pilih berada di Distrik 1 di pham ngu lao ward, karena dekat dengan tempat-tempat menarik yang akan saya kunjungi. Suasana di HCMC tidak berbeda jauh seperti di Indonesia. Banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang terutama kendaraan bermotornya, namun trotoar disini cukup lebar sehingga cukup nyaman untuk berjalan kaki. Selain itu pada saat akan menyebrang jalan dibutuhkan keberanian yang tinggi karena Vietnam itu terkenal dengan jumlah motornya yang luar biasa banyak. Jadi, jangan berharap jalan akan kosong dan bisa melenggang nyaman saat menyeberang jalan, apalagi lampu lalu lintas di sini tergolong minim.

Tujuan pertama saya adalah menuju Benh Than Market. Masyarakat setempat menyebutnya Cho Ben Thanh,  pasar tradisional yang bertempat di bangunan tua ini mengingatkan akan Pasar Beringharjo di Yogyakarta. Menjual berbagai pakaian, makanan, dan berbagai souvenir menarik, saat teramainya adalah pagi hingga sore. Selepas senja, area ini berganti menjadi Ben Thanh Night Market di luar bangunan, di mana kedua sisi jalannya dipenuhi pedagang makanan, pakaian, dan suvenir. Bila ingin berbelanja di sini, jangan lupa untuk menawar. Bila tak suka berbelanja pun, pengunjung tetap dapat menikmati pasar dengan mengudap pho atau banh mi dan menyeruput kopi ala Vietnam.

Selanjutnya tempat yang dikunjungi adalah Ho Chi Minh City Hall. Terletak di ujung Nguyen Hue Street. Bangunan yang awalnya bernama Hotel de Ville Saigon ini dibangun pada tahun 1902-1908 pada masa penjajahan Prancis. sedikit informasi sebaiknya kalian mengunjungi City Hall pada malam hari karena saat malam hari lampu-lampu pada bagian luar gedung dinyalakan dan efek dari iluminiasi cahaya tersebut sangat menarik perhatian. Sayangnya tempat ini tidak terbuka untuk publik, sehingga tidak dapat masuk kedalam City Hall, jadi hanya bisa menikmati bagian luar City Hall saja.

Setelah puas berphoto-photo didepan City Hall, selanjutnya menuju Saigon Notre-Dame Basilica yaitu Katedral bergaya Gothic yang megah. Berasal dari masa kolonial Perancis pada abad ke-19. Dibangun menyerupai Notre Dame di Paris, terdapat beberapa kesamaan antara lain dua lonceng menaranya yang menawan. Katedral ini dibangun di atas sebuah pagoda yang telah ditinggalkan. Pada tahun 1863, Admiral Bonard memutuskan untuk membangun sebuah gereja dari kayu, yang kemudian dinamai  Gereja Saigon. Seiring waktu, kayu lapuk oleh rayap sehingga ibadah dipindahkan sementara ke Istana Gubernur Perancis (sekarang Reunification Palace), sementara gereja direnovasi dengan hampir semua material diimpor dari Perancis, termasuk batu bata untuk tembok yang didatangkan dari Marseille. Meski tidak menggunakan pelapis beton, namun batu bata ini terbukti awet hingga hari ini. Di depan gereja terdapat taman bunga dengan patung Bunda Maria dari Vatikan di tengahnya.

Tidak jauh dari Saigon Notre-Dame Basilica, terdapat gedung kantor pos Dalam bahasa Vietnam disebut Buu Dien Trung Tam Sai Gon. Gedung kantor pos ini dibangun saat Vietnam menjadi bagian dari Perancis Indocina pada 1860. Bangunan ini masih terawat dengan baik, bahkan jam besar di gerbang utama masih berfungsi dengan baik. Bangunan ini mempunyai langit-langit tinggi yang melengkung dengan perabotan kayu serta dua peta raksasa dari abad ke-18. Meski kantor pos ini sudah tidak sesibuk dulu karena perkembangan teknologi, namun Ho Chi Minh Central Post Office masih terus buka melayani pelanggan setiap hari mulai pukul 08:00- 17:00.

Keesokan harinya dilanjut kembali menjelajah kota HCMC yaitu menuju Museum Sisa Perang (bahasa Vietnam: B£o tàng chng tích chin tranh; bahasa Inggris: War Remnant Museum) adalah museum di kota Saigon yang menampilkan sisa-sisa Perang Vietnam. Selain menampilkan berbagai senjata, kapal, dan pesawat perang, museum ini dikenal luas karena memperlihatkan banyak foto dan bukti kekejaman tentara Amerika di Vietnam. Sebuah ruangan khusus di dalam museum ini khusus memperlihatkan dampak buruk dari agen oranye, seperti foto-foto para penderita cacat dan janin yang mati akibat zat kimia tersebut. Sebagian pihak menilai koleksi yang ditampilkan di museum ini cenderung berat sebelah dan mempersalahkan AS, tanpa memperlihatkan kekejaman yang dilakukan oleh Vietnam Utara ketika perang berlangsung. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya dapat melihat atau dapat menyaksikan sejarah dimasa lalu di museum tersebut, sungguh beruntungnya kita tinggal di Negara yang aman dan tentram.

Setelah berkeliling dan menjelajah tidak lupa untuk mengicip kuliner khas negara Vietnam ini salah satunya Pho. Pho adalah mie semacam kwetiaw dalam sup kaldu sapi yang disajikan atau disertakan sayuran segar khas vietnam. Sungguh luar biasa menjelajah di HCMC kali ini, sebelum kembali ke Indonesia, saya sempatkan menikmati suasana malam di kawasan distrik 1. Kawasan ini memang dibuat ramai dengan ornamen lampu kelap kelip yang menarik, suara musik yang cukup keras, pramusaji-pramusaji cantik yang menawarkan menunya ke pengunjung yg lewat, cafe-cafe berlomba menarik tamunya untuk singgah dengan berbagai atraksi yang menarik. Kawasan ini biasanya ramai sampai larut pagi.

Akhirnya selesai sudah penjelajahan menikmati keunikan kota HCMC, sampai berjuma di cerita traveling berikutnya. Salam traveling!

 

Artikel asli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *